BAGIAN
TIGA
(Edisi
Flashback)
Ketua Ospek macam apa yang datang
terlambat dihari pertama serta Ospek fakultas yang macam apa pula yang
membiarkan para mahasiswa baru untuk beristirahat sejenak selagi menunggu sang
ketua. Hal ini sontak menjadi kesempatan untuk para mahasiswa baru untuk
istirahat sejenak sebelum badai menerpa. Begitu pula bagi Hana dan Cantika
sudah menjadi teman sekamar berlanjut menjadi teman kulia satu jurusan. Cobaan
apa lagi yang akan Hana terima. Mengapa gadis itu selalu ada bersamanya. Hana
harus siap sedia fisik dan mental untuk menghadapi sikap dari Cantika ini. Baru
saja Hana membicarakan sikap Cantika, gadis itu mulai berulah dengan cukup
mengusik dirinya.
“Han , pengen pipis !”
“Kalo pengen pipis ya tinggal ke kamar
mandi lah , gausah bilang-bilang segala, Cantik.”
“Ih kamu ini cewe yang ga peka banget sih
, kasian yang nanti jadi pacar kamu, punya pacar yang ga peka. Sudah ah
pokoknya aku itu minta anter sama kamu , temenin ke kamar mandinya.”
“Ih ogah banget, harus berdiri begitu
tunggu kamu. Sudah sana pergi sendiri saja !”
Cantika yang sudah tak tahan menahan
hasrat pipisnya tak pikir lagi untuk segera menarik Hana saja. Hana terlalu
banyak bicara dan itu membuang-buang waktu saja.
“Loh apa-apaan sih kamu , maen tarik saja,
aku kan sudah bilang gamau bagaimana sih ?” Hana menggerutu tapi tak berusaha
untuk menghentikan langkahnya. Itu sama saja ia ingin menemani Cantika pipis.
Cantika tak menghiraukan apa yang Hana
katakan , yang ia pikirkan ia harus segera pipis. Cantika celingukan mencari
toilet , dan beruntungnya berada dekat kantin. Sesampainya di kantin ,Cantika
mendudukan Hana di salah satu meja depan penjual batagor.
“Nah, Hana kamu tunggu disini , katanya
gamau berdiri nungguin jadi kamu duduk disini tungguin aku , okey !”
“Terserah. Yang pasti
cepetan waktu istirahat tinggal lima belas menit lagi. Ga usah lama-lama kaya
kamu mandi tadi pagi.”
“Iya bawel deh, lima menit juga selesai.”
Dalam pikiran Hana , awas saja kalau
Cantika tidak keluar dalam lima menit ya sudah dengan terpaksa dia tinggalkan
saja. Selagi menunggu , seperti biasanya disaat Hana bosan maka ia akan menulis
sebuah puisi. Menulis puisi itu bukan dalam waktu singkat , kalau iahitung
waktu telah berlalu cukup lama. Saat ia melihat arloji di tangan kirinya
ternyata sudah sepuluh menit berlalu dan Cantika belum juga keluar dari toilet.
Hana sudah kesal , ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Lima menit lagi mereka
harus segera berkumpul di tempat semula.
Hana beranjak dari duduknya menuju ke
toilet. Ia sampai lupa masih memegang buku kumpulan puisi miliknya di tangan
kiri dan bolpoin super lancipnya di tangan kanan. Hana memeriksa setiap bilik
toilet namun nihil, ia tak menemukan di mana Cantika berada. Tidak mungkin kan
kalau Cantika salah masuk toilet , kalau iya juga pasti langsung tahu diri
kembali keluar. Hanya satu kemungkinan yang diduga Hana saat ini. Cantika sudah
pergi meninggalkannya lebih dulu . Ya itu sudah pasti. Dasar menyebalkan. Hana
kembali bergegas menuju ke tempat berkumpulnya para mahasiswa baru. Saking
kesalnya Hana tak tahan lagi ingin mengeluarkan amarahnya. Refleks , ia melemparkan
bolpoin super lancipnya dan yang lebih tak terduganya lagi , melayangnya
bolpoin itu mengeluarkan sura seperti ringisan seseorang.
“Aww!!”
Mampus , Hana harus pergi melarikan diri
saja saat ini. ia tak punya banyak waktu lagi atau ia harus menerima risiko
untuk dihukum. Ia hanya bisa meminta maaf dalam hati. Sebelum pergi Hana
menyempatkan diri untuk melihat wajah korban melayang bolpoinnya , siapa tahu
ia bisa meminta maaf dikemudian hari. Tapi ia ingat akan fakta bahwa dirinya
adalah orang yang sangat pelupa untuk mengingat wajah seseorang jika hanya
sekali melihat. Tapi apa salahnya untuk tetap mencoba, toh siapa tahu ia bisa
mengingatnya secara kebetulan.
Dengan melongokkan kepala secepat kilat
tanpa orang itu ketahui perlahan tapi pasti. Ternyata korbannya seorang pria ,
tang sampai saat ini masih meringis ditempatnya. Cukup , Hana sudah melihat
wajah pria itu kini saatnya ia untuk segera pergi. Saat akan malangkah , secara
tak sengaja mata mereka bersibobrok. Sontak Hana merasa kepanikan melanda
dirinya , tanpa pikir panja ia segera mengambil langkah seribu untuk segera
melarikan diri dati tempat itu.
Di sisi lain pria yang sedang mengusap
dahinya yang sedikit berdarah meringis serta tersenyum di saat yang bersamaan.
Ia tak sempat untuk segera memanggil perempuan yang sepertinya pemilik bolpoin
yang dengan enaknya menabrak dahi mulus miliknya ini. Gadis itu adalah gadis
yang sama dengan yang dilihatnya kemarin. Gadis pemberani yang mengalahkan
seorang pria penyandera dengan kemampuan bela dirinya. Jika saja ia berada di
tempat itu sebelum gadis itu bertindak,mungkin saja ia yang akan lebih dulu
bertindak. Tapi jika bukan karena kejadian kemarin ia tak akan memberikan
sepatunya dan tidak akan mengetahui siapa gadis itu , yang hanya karena
kemampuan bela diri itu membuat hatinya berdebar seperti orang jatuh cinta
saja.
Hana Dalkomhan , nama yang cantik.
Bagaimana ia tahu nama tersebut ?Jjawabannya ada beberapa media yang
mencantumkan nama Hana Dalkomhan sebagai penyelamat seorang ibu dari serangan
penyandera. Namun bukan Ismail namanya jika hanya tahu sebatas nama saja. Ia
tak pernah merasa penasaran pada seorang manapun. Dengan kegigihannya akhirnya yang
ia temukan tidaklah sia-sia. Hana Dalkomhan , calon mahasiswa Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Linggabuana. Dan yang lebih membuat hati Ismail berbunga
adalah mereka akan sering berjumpa.
***
Yang Hana lihat saat ini adalah para
mahasiswa yang berbaris rapi. Untungnya ia belum terlambat . dengan segera ia
ikut berbaris rapi dengan yang lainnya. Tepat dihadapannya berdirilah seorang
Cantika. Jika saja ini bukan di kampus , ia akan dengan pasti menjenggut rambut
Cantika yang saat ini dikuncir kuda. Tapi setidaknya ia masih tahu diri untuk
memendam amarahnya sebentar saja. Yang bisa ia lakukan sementara saat ini
adalah , memberikan bisikan super maut disamping telinga Cantika.
“Nantikan apa yang akan terjadi nanti ,
nona Cantik !”
Cantika pikir itu bisikan
setan , tapi ternyata itu Hana yang tadi ia lupakan keberadaannya di kantin. Ia
terpaksa meninggalkan Hana bukan tanpa alasan. Yang harus Hana lakukan saat ini
adalah segera meminta maaf.
“Han , maafin aku ya , maafin karena malah
ninggalin begitu aja. Tadi itu terpaksa soalnya...”
“Hey yang dibelakang bisa diam ! Ketua
akan menyampaikan sambutannya , jadi harap tenang .” ucapan Cantika terhenti
berbarengan dengan tubuh Cantika yang terpaksa harus kembali menghadap ke
depan.
Hana yang tak merasa berbuat kesalahan
hanya cuek bebek saja , toh yang berisik itu Cantika dan ia hanya diam saja
tanpa menimpali apa yang dikatakan Cantika. Saat ia mendongak ingin melihat wajah seorang
ketua yang terlambat dari jadwalnya, saat itu juga Hana seperti tersambar petir
di siang bolong. Bagaimana bisa korbannya mejadi ketua ospek . Ia memang
pelupa, tapi ia masih samar-samar menginat wajah pria itu. Apalagi dengan bukti
kuat bahwa terdapat luka di bagian dahi kirinya. Sudah jelas bahwa itu tercipta
kareng ulah Hana. Hana bingung apa yang harus ia lakukan , pria itu pasti sudah
melihat wajahnya. Bagaimana kalau pria itu membalas dendam dengan menjadikannya
kacung ? Itu suatu hal yang tak akan pernah ia biarkan terjadi.
Hana berusaha agar tidak menatap ketua
ospek yang sedang memperkenalkan diri pada semua mahasiswa baru.
“Hai semuanya , perkenalkan nama saya
Ismail Gara Arjuna. Sebelumnya saya mohon maaf atas keterlambatan saya...,”
Si ketua terus berbicara menyampaikan
sambutannya. Sementara Hana tidak fokus mendengar apa yang ketua itu sampaikan.
Ia hanya mendengar sampai ketua memberi tahu namanya. Oke ,dia memang mahasiswa
yang kurang ajar. Tapi jangan salahkan dia karena bukan hanya dirinya tak fokus
memikirkan nasibnya setelah membuat kesalahan tak sengaja pada seniornya itu.
Para mahasiswa baru yang sudah pasti para gadis tak hentinya menggunjingkan
bagaimana ketampanan seorang ketua Ospek yang Hana ketahui namanya adalah
Ismail.
Terlalu lama melamun membuat Hana tak
menyadari pergerakan para mahasiswa yang mulai berbaris satu barisan memanjang
kebelakang. Kalau saja Cantika tidak menariknya sudah pasti Hana akan menjadi
bahan tertawaan karena berdiri sendirian di tengah halaman. Untuk saat ini
egonya harus ia singkirkan terlebih dahulu. Ia tak ingin terlihat bodoh sekali
lagi. Ia harus mengetahui apa yang harus dilakukan para mahasiswa setelah ini.
salahkan telinganya karena tidak mendengarkan sama sekali perintah yang
diberikan oleh ketua ospek itu.
“Ini pada baris memang mau apa sih , Can
?”
“Emangnya kamu ga denger ? Kita bakal
milih undian di papan digital. Sekarang mah
sudah ga jaman kalo ngundi itu pakai kertas. Sekarang sudah jamannya teknologi
, itu liat tinggal sentuh langsung deh keluar nama beserta wajah dari senior
yang bakal ngebimbing kita selama ospek.”
“Oh.” Karena Hana masik dalam mode marah ,
maka ia menjawab secukupnya saja,
Cantika yang menyadari Hana masih marah
padanya , masih akan berusaha keras agar Hana tak marah lagi. Cantika akan terus mengajak bicara Hana
, walau Cantika tahu itu pasti akan menjadi hal yang menyebalkan plus
membosankan untuk Hana,
“Han , tahu nggak kalo ketua ospek yang
ganteng itu bakal membimbing hanya satu orang mahasiswa. Wah , beruntung banget
yang nanti dapet bimbingan dari Ketos (Ketua Ospek) pasti bakalan bener – bener
ekslusif quality time , secara
kemana-mana bakal berdua terus.”
“Hmm.” Lagi-lagi balasan yang singkat.
“Coba saja yang ngebimbing satu orang saja
itu wakil ketuanya, aku bakal ikhlas lahir bathin untuk menjadi mahasiswa
bimbingan wakil ketua. Kenapa wakil dapetnya dua sih ? Kan kalo ada yang godain
dia bagaimana dong ? Secara wakil ketua juga ga kalah ganteng dari ketuanya.
“Lah memang apa urusanmu kalo wakil
ketuanya ada yang godain atau engga ? Yang ada juga kamu yang bakal godain itu
wakil ketua.” Tunjuk Hana dengan dagunya pada wakil ketua yang ada di samping
ketua.
“Ya masalah lah ! Wong dia pacarku , aku
ga bakal rela berbagi pacar dengan orang lain , huh !” suara Cantika sempat
mengecil dibagian pacarku,takut ada yang mendengar mungkin. Hana sedikit
terkejut mengetahui fakta bahwa si wakil ketua yang namanya Daniel itu ternyata
kekasihnya si Cantika.
“Kamu kepedean banget, emangnya kamu yakin
bakal dapetin Ka Daniel pembimbing kamu ? Kalo memang sudah jodoh mah ya gapapa sih.”
“Sudah pasti aku confident banget lah , dia itu memang jodoh aku .Kalo memang ka
Daniel itu jodoh pasti gabakal kemana-mana, paling ke hati aku.” Setelah
mengatakan hal demikian Hana rasanya ingin muntah saja. Sementara Cantika terus
melamun sambil tersenyum gila , entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
“Selanjutnya ! “
“Hey , kamu Cantika jangan bengong saja ,
cepat maju giliran kamu . Antrian masih panjang .” seorang senior wanita
menegur Cantika . Jangan tanya darimana senior itu tahu nama Cantika, karena
memang semua mahasiswa baru diwajibkan untuk memakai name tag yang cukup besar.
Cantika memilih dengan senang hati , sudah
pasti yang Cantika harapkan yang menjadi pembimbingnya adalah pacarnya sendiri.
Dilihat dari ekspresi gadis itu tampaknya Cantika mendapatkan apa yang ia
inginkan. Berbeda dengan Hana yang dalam hatinya terus merapalkan agar tidak
dibimbing oleh Ismail. Jika itu terjadi maka sebuah bencana besar bagi Hana. Hana
memilih dengan sangat hati-hati , Hana menyukai nomor 1 maka ia akan memilih
nomor tersebut. Dan hasilnya hari ini rasanya ia seperti disambar petir dua
kali di siang bolong . Yang tidak ia harapkan malah terjadi. Dari sekian
banyaknya orang yang menjadi seniornya , mengapa harus Ismail yang menjadi
pembimbingnya ?