Senin, 04 Maret 2019

Novel : Ingatan Jangka Pendek , Hubungan Jangka Panjang


BAGIAN TIGA
(Edisi Flashback)


     Ketua Ospek macam apa yang datang terlambat dihari pertama serta Ospek fakultas yang macam apa pula yang membiarkan para mahasiswa baru untuk beristirahat sejenak selagi menunggu sang ketua. Hal ini sontak menjadi kesempatan untuk para mahasiswa baru untuk istirahat sejenak sebelum badai menerpa. Begitu pula bagi Hana dan Cantika sudah menjadi teman sekamar berlanjut menjadi teman kulia satu jurusan. Cobaan apa lagi yang akan Hana terima. Mengapa gadis itu selalu ada bersamanya. Hana harus siap sedia fisik dan mental untuk menghadapi sikap dari Cantika ini. Baru saja Hana membicarakan sikap Cantika, gadis itu mulai berulah dengan cukup mengusik dirinya.
     “Han , pengen pipis !”
     “Kalo pengen pipis ya tinggal ke kamar mandi lah , gausah bilang-bilang segala, Cantik.”
     “Ih kamu ini cewe yang ga peka banget sih , kasian yang nanti jadi pacar kamu, punya pacar yang ga peka. Sudah ah pokoknya aku itu minta anter sama kamu , temenin ke kamar mandinya.”
     “Ih ogah banget, harus berdiri begitu tunggu kamu. Sudah sana pergi sendiri saja !”
     Cantika yang sudah tak tahan menahan hasrat pipisnya tak pikir lagi untuk segera menarik Hana saja. Hana terlalu banyak bicara dan itu membuang-buang waktu saja.
     “Loh apa-apaan sih kamu , maen tarik saja, aku kan sudah bilang gamau bagaimana sih ?” Hana menggerutu tapi tak berusaha untuk menghentikan langkahnya. Itu sama saja ia ingin menemani Cantika pipis.
     Cantika tak menghiraukan apa yang Hana katakan , yang ia pikirkan ia harus segera pipis. Cantika celingukan mencari toilet , dan beruntungnya berada dekat kantin. Sesampainya di kantin ,Cantika mendudukan Hana di salah satu meja depan penjual batagor.
     “Nah, Hana kamu tunggu disini , katanya gamau berdiri nungguin jadi kamu duduk disini tungguin aku , okey !”
“Terserah. Yang pasti cepetan waktu istirahat tinggal lima belas menit lagi. Ga usah lama-lama kaya kamu mandi tadi pagi.”
     “Iya bawel deh, lima menit juga selesai.”
     Dalam pikiran Hana , awas saja kalau Cantika tidak keluar dalam lima menit ya sudah dengan terpaksa dia tinggalkan saja. Selagi menunggu , seperti biasanya disaat Hana bosan maka ia akan menulis sebuah puisi. Menulis puisi itu bukan dalam waktu singkat , kalau iahitung waktu telah berlalu cukup lama. Saat ia melihat arloji di tangan kirinya ternyata sudah sepuluh menit berlalu dan Cantika belum juga keluar dari toilet. Hana sudah kesal , ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Lima menit lagi mereka harus segera berkumpul di tempat semula.
     Hana beranjak dari duduknya menuju ke toilet. Ia sampai lupa masih memegang buku kumpulan puisi miliknya di tangan kiri dan bolpoin super lancipnya di tangan kanan. Hana memeriksa setiap bilik toilet namun nihil, ia tak menemukan di mana Cantika berada. Tidak mungkin kan kalau Cantika salah masuk toilet , kalau iya juga pasti langsung tahu diri kembali keluar. Hanya satu kemungkinan yang diduga Hana saat ini. Cantika sudah pergi meninggalkannya lebih dulu . Ya itu sudah pasti. Dasar menyebalkan. Hana kembali bergegas menuju ke tempat berkumpulnya para mahasiswa baru. Saking kesalnya Hana tak tahan lagi ingin mengeluarkan amarahnya. Refleks , ia melemparkan bolpoin super lancipnya dan yang lebih tak terduganya lagi , melayangnya bolpoin itu mengeluarkan sura seperti ringisan seseorang.
     “Aww!!”
     Mampus , Hana harus pergi melarikan diri saja saat ini. ia tak punya banyak waktu lagi atau ia harus menerima risiko untuk dihukum. Ia hanya bisa meminta maaf dalam hati. Sebelum pergi Hana menyempatkan diri untuk melihat wajah korban melayang bolpoinnya , siapa tahu ia bisa meminta maaf dikemudian hari. Tapi ia ingat akan fakta bahwa dirinya adalah orang yang sangat pelupa untuk mengingat wajah seseorang jika hanya sekali melihat. Tapi apa salahnya untuk tetap mencoba, toh siapa tahu ia bisa mengingatnya secara kebetulan.
     Dengan melongokkan kepala secepat kilat tanpa orang itu ketahui perlahan tapi pasti. Ternyata korbannya seorang pria , tang sampai saat ini masih meringis ditempatnya. Cukup , Hana sudah melihat wajah pria itu kini saatnya ia untuk segera pergi. Saat akan malangkah , secara tak sengaja mata mereka bersibobrok. Sontak Hana merasa kepanikan melanda dirinya , tanpa pikir panja ia segera mengambil langkah seribu untuk segera melarikan diri dati tempat itu.
     Di sisi lain pria yang sedang mengusap dahinya yang sedikit berdarah meringis serta tersenyum di saat yang bersamaan. Ia tak sempat untuk segera memanggil perempuan yang sepertinya pemilik bolpoin yang dengan enaknya menabrak dahi mulus miliknya ini. Gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang dilihatnya kemarin. Gadis pemberani yang mengalahkan seorang pria penyandera dengan kemampuan bela dirinya. Jika saja ia berada di tempat itu sebelum gadis itu bertindak,mungkin saja ia yang akan lebih dulu bertindak. Tapi jika bukan karena kejadian kemarin ia tak akan memberikan sepatunya dan tidak akan mengetahui siapa gadis itu , yang hanya karena kemampuan bela diri itu membuat hatinya berdebar seperti orang jatuh cinta saja.
     Hana Dalkomhan , nama yang cantik. Bagaimana ia tahu nama tersebut ?Jjawabannya ada beberapa media yang mencantumkan nama Hana Dalkomhan sebagai penyelamat seorang ibu dari serangan penyandera. Namun bukan Ismail namanya jika hanya tahu sebatas nama saja. Ia tak pernah merasa penasaran pada seorang manapun. Dengan kegigihannya akhirnya yang ia temukan tidaklah sia-sia. Hana Dalkomhan , calon mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Linggabuana. Dan yang lebih membuat hati Ismail berbunga adalah mereka  akan sering berjumpa.
***
     Yang Hana lihat saat ini adalah para mahasiswa yang berbaris rapi. Untungnya ia belum terlambat . dengan segera ia ikut berbaris rapi dengan yang lainnya. Tepat dihadapannya berdirilah seorang Cantika. Jika saja ini bukan di kampus , ia akan dengan pasti menjenggut rambut Cantika yang saat ini dikuncir kuda. Tapi setidaknya ia masih tahu diri untuk memendam amarahnya sebentar saja. Yang bisa ia lakukan sementara saat ini adalah , memberikan bisikan super maut disamping telinga Cantika.
     “Nantikan apa yang akan terjadi nanti , nona Cantik !”
Cantika pikir itu bisikan setan , tapi ternyata itu Hana yang tadi ia lupakan keberadaannya di kantin. Ia terpaksa meninggalkan Hana bukan tanpa alasan. Yang harus Hana lakukan saat ini adalah segera meminta maaf.
     “Han , maafin aku ya , maafin karena malah ninggalin begitu aja. Tadi itu terpaksa soalnya...”
     “Hey yang dibelakang bisa diam ! Ketua akan menyampaikan sambutannya , jadi harap tenang .” ucapan Cantika terhenti berbarengan dengan tubuh Cantika yang terpaksa harus kembali menghadap ke depan.
     Hana yang tak merasa berbuat kesalahan hanya cuek bebek saja , toh yang berisik itu Cantika dan ia hanya diam saja tanpa menimpali apa yang dikatakan Cantika.  Saat ia mendongak ingin melihat wajah seorang ketua yang terlambat dari jadwalnya, saat itu juga Hana seperti tersambar petir di siang bolong. Bagaimana bisa korbannya mejadi ketua ospek . Ia memang pelupa, tapi ia masih samar-samar menginat wajah pria itu. Apalagi dengan bukti kuat bahwa terdapat luka di bagian dahi kirinya. Sudah jelas bahwa itu tercipta kareng ulah Hana. Hana bingung apa yang harus ia lakukan , pria itu pasti sudah melihat wajahnya. Bagaimana kalau pria itu membalas dendam dengan menjadikannya kacung ? Itu suatu hal yang tak akan pernah ia biarkan terjadi.
     Hana berusaha agar tidak menatap ketua ospek yang sedang memperkenalkan diri pada semua mahasiswa baru.
     “Hai semuanya , perkenalkan nama saya Ismail Gara Arjuna. Sebelumnya saya mohon maaf atas keterlambatan saya...,”
     Si ketua terus berbicara menyampaikan sambutannya. Sementara Hana tidak fokus mendengar apa yang ketua itu sampaikan. Ia hanya mendengar sampai ketua memberi tahu namanya. Oke ,dia memang mahasiswa yang kurang ajar. Tapi jangan salahkan dia karena bukan hanya dirinya tak fokus memikirkan nasibnya setelah membuat kesalahan tak sengaja pada seniornya itu. Para mahasiswa baru yang sudah pasti para gadis tak hentinya menggunjingkan bagaimana ketampanan seorang ketua Ospek yang Hana ketahui namanya adalah Ismail.
     Terlalu lama melamun membuat Hana tak menyadari pergerakan para mahasiswa yang mulai berbaris satu barisan memanjang kebelakang. Kalau saja Cantika tidak menariknya sudah pasti Hana akan menjadi bahan tertawaan karena berdiri sendirian di tengah halaman. Untuk saat ini egonya harus ia singkirkan terlebih dahulu. Ia tak ingin terlihat bodoh sekali lagi. Ia harus mengetahui apa yang harus dilakukan para mahasiswa setelah ini. salahkan telinganya karena tidak mendengarkan sama sekali perintah yang diberikan oleh ketua ospek itu.
     “Ini pada baris memang mau apa sih , Can ?”
     “Emangnya kamu ga denger ? Kita bakal milih undian di papan digital. Sekarang mah sudah ga jaman kalo ngundi itu pakai kertas. Sekarang sudah jamannya teknologi , itu liat tinggal sentuh langsung deh keluar nama beserta wajah dari senior yang bakal ngebimbing kita selama ospek.”
     “Oh.” Karena Hana masik dalam mode marah , maka ia menjawab secukupnya saja,
     Cantika yang menyadari Hana masih marah padanya , masih akan berusaha keras agar Hana tak marah  lagi. Cantika akan terus mengajak bicara Hana , walau Cantika tahu itu pasti akan menjadi hal yang menyebalkan plus membosankan untuk Hana,
     “Han , tahu nggak kalo ketua ospek yang ganteng itu bakal membimbing hanya satu orang mahasiswa. Wah , beruntung banget yang nanti dapet bimbingan dari Ketos (Ketua Ospek) pasti bakalan bener – bener ekslusif quality time , secara kemana-mana bakal berdua terus.”
     “Hmm.” Lagi-lagi balasan yang singkat.
     “Coba saja yang ngebimbing satu orang saja itu wakil ketuanya, aku bakal ikhlas lahir bathin untuk menjadi mahasiswa bimbingan wakil ketua. Kenapa wakil dapetnya dua sih ? Kan kalo ada yang godain dia bagaimana dong ? Secara wakil ketua juga ga kalah ganteng dari ketuanya.
     “Lah memang apa urusanmu kalo wakil ketuanya ada yang godain atau engga ? Yang ada juga kamu yang bakal godain itu wakil ketua.” Tunjuk Hana dengan dagunya pada wakil ketua yang ada di samping ketua.
     “Ya masalah lah ! Wong dia pacarku , aku ga bakal rela berbagi pacar dengan orang lain , huh !” suara Cantika sempat mengecil dibagian pacarku,takut ada yang mendengar mungkin. Hana sedikit terkejut mengetahui fakta bahwa si wakil ketua yang namanya Daniel itu ternyata kekasihnya si Cantika.
     “Kamu kepedean banget, emangnya kamu yakin bakal dapetin Ka Daniel pembimbing kamu ? Kalo memang sudah jodoh mah ya gapapa sih.”
     “Sudah pasti aku confident banget lah , dia itu memang jodoh aku .Kalo memang ka Daniel itu jodoh pasti gabakal kemana-mana, paling ke hati aku.” Setelah mengatakan hal demikian Hana rasanya ingin muntah saja. Sementara Cantika terus melamun sambil tersenyum gila , entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
     “Selanjutnya ! “
     “Hey , kamu Cantika jangan bengong saja , cepat maju giliran kamu . Antrian masih panjang .” seorang senior wanita menegur Cantika . Jangan tanya darimana senior itu tahu nama Cantika, karena memang semua mahasiswa baru diwajibkan untuk memakai name tag yang cukup besar.
     Cantika memilih dengan senang hati , sudah pasti yang Cantika harapkan yang menjadi pembimbingnya adalah pacarnya sendiri. Dilihat dari ekspresi gadis itu tampaknya Cantika mendapatkan apa yang ia inginkan. Berbeda dengan Hana yang dalam hatinya terus merapalkan agar tidak dibimbing oleh Ismail. Jika itu terjadi maka sebuah bencana besar bagi Hana. Hana memilih dengan sangat hati-hati , Hana menyukai nomor 1 maka ia akan memilih nomor tersebut. Dan hasilnya hari ini rasanya ia seperti disambar petir dua kali di siang bolong . Yang tidak ia harapkan malah terjadi. Dari sekian banyaknya orang yang menjadi seniornya , mengapa harus Ismail yang menjadi pembimbingnya ?

Sabtu, 02 Maret 2019

Novel : Ingatan Jangka Pendek , Hubungan Jangka Panjang

BAGIAN DUA

     Satu jam bagai satu hari, dua jam bagai satu bulan, tiga jam bagai satu tahun. Lalu bagaimana keadaan Hana jika satu jam saja seperti satu hari. Yang ia pikirkan saat ini adalah meminta pintu kemana saja milik Doraemon. Ia ingin segera sampai, tanpa ada suatu hal yang menghambatnya.
     Ah Pria di sampingnya adalah seseorang yang hampir tak pernah absen dari kehidupan Hana selama empat tahun kebelakang. Ia merasa canggung bukan karena marah. Mereka bukan sepasang mantan yang terlibat dalam insiden pertengkaran. Mereka bahkan bukan sepasang kekasih yang diresmikan. Mereka hanyalah dua insan yang memiliki takdir untuk dipertemukan.
     Memikirkan berbagai hal yang telah Hana lewati selama kehidupannya di dunia perkuliahan membuat ia ingin bernostalgia sejenak. Hana memang seorang pelupa, tapi jauh dari yang orang-orang kebanyakan mengira , sebenarnya ada kalanya Hana tidak bisa melupakan berbagai momen penting yang pernah ia lalui.
Kalian pasti bertanya – tanya Hana pergi bersama seorang pria yang bahkan bukan siapa siapanya Hana. Bukankah itu berbahaya . Jarak antara Bandung-Kuningan bukan hanya tingal ke perempatan. Tetapi melewati  medan tempuh yang sangat jauh. Mengapa Hana tidak takut diculik atau diapakan ,suatu hal yang mengancam fisiknya ia tak perlu khawatir. Hana adalah seorang Karateka sabuk hitam. Lagi pula apa yang harus ia khawatirkan jika bersama Ismail. Pria ini adalah pria yang baik maka kecil kemungkinan jika Ismail berbuat suatu hal yang membahayakan Hana. Tapi Hana telah berbuat hal yang pasti melukai ego yang laki-laki miliki. Bisa saja Ismail berbuat hal jahat setelah Hana secara tak langsung menolak lamaran untuk menikah dengannya. Hana bukannya tak mau, tapi ia sedang sibuk dan terfokus dengan skripsinya. Ia ingin menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Jadi kesimpulannya Hana sudah menolak Ismail.
     Sebuah kilasan peristiwa tiba-tiba melintas dipikirannya. Mau tak mau Hana tenggelam dan kembali mengingat kejadian itu.

     4 tahun yang lalu...
     Hari minggu adalah hari dimana sebagian orang memanjakan diri dengan pergi menghirup udara segar maupun pergi memanjakan diri berbelanja ka Mall. Yang lebih mendukung adalah cuaca hari minggu yang seakan-aka menarik manusia agar menikmati alam ciptaan Tuhan ini.
Tapi tidak dengan Hana yang lebih nyaman bergelung dengan selimutnya. Hana memiliki slogan “It’s dangerous out of blanket”. Tapi entah memang ia hanya sedang sial saja atau sebuah kesialan itu memang sudah direncanakan untuk Hana, ia memiliki seorang roomate yang sangat Sok Kenal Sok Dekat. Mereka bahkan baru bertemu selama lima hari. Tapi gadis itu , Cantika namanya, sudah seperti menganggap jika mereka ini adalah sahabat yang sudah lama tak bertemu laludipertemukan kembali.
     “Hana Dalkomhan , cepetan bangun ! Ayo temani aku pergi ke mall . ayo kita merelaxkan jiwa dan raga sebelum menghadapi Ospek besok.” Kedua tangan Cantika menggoyang – goyang tubuh Hana, dengan begitu Hana akan cepat bangun. Tapi cara itu belum mutakhir bagi Hana. Ia tak bisa melewatkan hari minggunya bersama seseorang yang sangat menyebalkan seperti Cantika.
     “Hana Daleman , cepet bangun !”
Mendengar namanya diubah begitu saja , tentu Hana tidak bisa diam saja. Apapun yang menyangkut hajat hidup Hana Dalkomhan haruslah dijaga sebaik-baiknya. “Apa kau bilang ? Berani sekali mengganti namaku seenaknya. Itu adalah nama pemberian Ibu Suri Agung yang tidak bisa diganggu gugat. Kau akan mati jika ibuku tahu apa yang kau katakan padaku!” Hana yang sudah sangat kesal kembali menenggelamkan diri kedalam selimutnya itu.
     “Bodo amat ! lagian ibu kamu yang bilang kalo minggu jangan pernah biarin kamu terus-terusan di atas kasur. Pokoknya bangun . Daleman..Daleman .. Dal...” Cantika yang tak menduga akan menerima timpukan bantal milik Hana pun limbung karena timpukan bantal yang cukup kuat. “diam kau ! Aku sudah bangun. Awas saja jika sekali lagi bicara seperti itu. Mati kau ditanganku, bukan lagi ditangan ibuku. Sial .” Hana segera pergi ke kamar mandi setelah berkata demikian.
     Sementara itu bukannya marah , Cantika malah dengan senang hati mempersiapkan pakaian yang akan dipakai Hana. Satu hal pesan dari Ibu Hana yang harus ia lakukan akhir pekan ini. Sepatu high hells,Hana harus memakai itu. Dengan segera ia menyembunyikan semua sneakers yang Hana miliki, kemudian menyiapkan sepatu setinggi lima sentimeter miliknya. Itu sangat cocok untuk pemula seperti Hana.
     Alhasil selama perjalanan menuju Mall , Hana tak henti-hentinya mencoba untuk tak meluapkan amarahnya kepada Cantika. Bagaimana ia tak kesal , mimpi apa semalam ia hari ini harus memakai sepatu berhak seperti ini ,sungguh mengerikan. Untungnya saja ia tak terlalu bodoh dalam menggunakan sepatu tersebut. Yang ia herankan adalah mengapa Cantika sangat memaksanya untuk pergi ke Mall. Cantika bisa saja minta temani pacarnya. Sungguh aneh.
     “Cantika , mengapa kau ingin sekali pergi ke Mall bersamaku ?”
     “Aku melihat pakaian karate dan sabuk hitam yang kamu miliki di lemari bajumu. Wah kamu keren sekali ! Dengan adanya kamu aku tidak perlu khawatir akan ada seseorang menyerangku.”
     “Hey , memangnya aku ini pengawalmu ! lagipula bukankah kau ada pacar , dia harusnya yang berada di posisiku saat ini .”
     “Pacarku itu panitia Ospek kita besok , dia sibuk makanya aku pergi bersamamu, Huh .”
     Dasar gadis menyebalkan pikir Hana. Ia merasa mual  hanya dengan melihat wajah Cantika . Saat mencoba mangalihkan pandangan dari Cantika , Hana melihat keributan tak jauh dari tempat ia berada. Dia melihat dengan mata kepala sendiri seorang pria yang mulai dikerubungi warga itu menyandera seorang ibu-ibu. Kejadian ini berada di sebuah taman yang tak jauh dari Mall tadi. Dengan bergegas Hana pergi ke tempat yang sedang di kerubungi itu. Cantika yang ada di belakangnya berteriak pada Hana agar mereka pulang saja ,tak perlu ikut campur hal yang berbahaya seperti itu. Namun Hana tak menghiraukan teriakan Cantika. Apa gunanya teknologi serta keahlian bela diri yang dimiliki Hana jika tidak dipergunakan dengan baik.
     “Mundur kalian semua ! Jangan panggil polisi dan jangan mendekat ! kalau kalian berani berbuat itu , akan kubunuh wanita ini !” dengan pisau ditangannya pria paruh baya itu menodongkan pisaunya pada warga lalu kembali pada ibu yang disanderanya itu.
     Hana yang tak ingin dianggap bodoh , segera menelepon polisi tanpa terlihat oleh pria itu. Oke ini saatnya Hana memberikan pertunjukannya yang konyol namun menyangkut nyawa seseorang. Rencana konyolnya ini bukan diataskan pada ide bodoh yang mendadak , Hana bisa melihat dari tatapan mata pria itu , kalau pria paruh baya itu adalah seseorang yang mudah teralihkan pikirannya. Dengan modal apa yang diketahuinya saat ini , Hana berani mengambil risiko dari rencana yang akan segera ia lancarkan ini.
     Hana menjatuhkan diri tepat satu meter dihadapan pria yang menyandari seorang ibu-ibu tadi. Warga yang mengerubungi mulai berteriak panik mengutuk aksi bodh yang ia lakukan. Begitupun Cantika dengan teriakannya yang paling heboh dari siapapun. Sialnya ia menjatuhkan diri tetapi seperti benar-benar terjatuh yang tak dibuat-buat. Ia sungguh sakit. Rupanya Hana lupa jika ia sedang memakai sepatu high heels. Tapi Hana harus tetap fokus dengan rencananya. Rasa sakitnya akan hilang seiring berjalannya waktu.
     Si penyandera mulai panik mengetahui ada seseorang yang berani mendekatinya , apalagi itu perempuan. Penyandera mulai bingung antara menodongkan pisau pada ibu itu atau pada Hana yang mulai mendekati mereka. Oke , aksinya dimulai sekarang juga.
     “Aww... sakit banget. Loh ini ada apa ko ramai sekali , engga tahu apa aku sedang buru-buru mencari sesuatu yang sangat langka. “ ucapnya sembari mencoba berdiri dan berpura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi saat ini .
     Orang – orang mulai berteriak kepada Hana agar segera menjauh dari pria yang sedang menyandera itu. Kalau mereka khawatir mengapa tak ada seorangpun yang dengan berani untuk menyelamatkan Hana saat ini ataupun ibu yang sedang disandera itu. Sungguh miris bahwa rasa simpati mereka kurang, mereka hanya mementingkan diri sendiri. Seharusnya mereka membaca situasi , Hana dengan sekali lihat saja tahu bahwa pria penyandera itu sepertinya baru pertama kali memegang pisau. Jika sudah terbiasa menggunakan pisau untuk kejahatan , seharusnya pria itu tak perlu gemetaran seperti itu. Oke , tahap kedua rencana akan segera dilancarkan .
     Hana hanya celingukan tak mengerti , kemudian ia melihat jam tangan yang sangat mewah dipakai oleh penyandera itu. Itu akan menjadi objek yang ia gunakan sebagai pengalih perhatian.      “Wah bapak dapat dari mana jam tangan itu ? Saya sekarang sedang sangat darurat untuk segera mendapatkan jam tangan itu. Biar saya beli saja pak , berapapun itu saya beli !” pria penyandera mulai goyah , ketika fokus mata pria itu melihat ke arah jam tangannya, Hana segera melayangkan tinjuan serta tendangan secepat kilat, kemuadian menindih pria penyandera itu. Pisau yang ada digenggamannya Hana buang jauh-jauh .
     Tak berselang lama ,suara sirine polisi mulai mendekat. Akhirnya , Hana serahkan rencana berikutnya kepada polisi. Polisi sempat bertanya pada Hana apakah ada yang terluka  . Hana dengan segera menjawab baik-baik saja. Toh , ia sudah biasa sakit seperti ini. Yang ia inginkan saat ini hanyalah segera berbaring di atas kasurnya . Menerima ucapan terimakasih sudah sangat cukup bagi Hana. Sempat ada media yang ingin mewawancarainya atas apa yang ia lakukan. Namun Hana menolaknya karena memang ia tak suka menjadi pusat perhatian.
     Cantika menuntun Hana menuju air mancur yang ada di dalam taman tersebut. Hana baru menyadari bahwa hak sepatunya patah saat menendang wajah pria penyandera itu. Bisa dibayangkan seberapa kuatnya tendangan yang ia miliki.
     “Cantika , maaf ya ini sepatumu jadi patah .” Hana merasa tak enak sudah merusak barang milik Cantika.
     “Sudah tidak apa-apa. Sepatu kayak gini ngga ada apa-apanya dibandingkan keselamatan kamu. Dasar bodoh , kamu ini perempuan tapi berani-beraninya berbuat hal berbahaya seperti itu . Sudah sepatunya dibuang saja!” Cantika yang memang lebih bodoh daripada Hana melemparkan sepatu patahnya tanpa melihat arah. Alhasil sepatu itu mendarat di kepala orang .  Dan seseorang itu adalah seorang pria . Bagaimana jika pria itu marah dan mendekat kemari. Baru saja apa yang dikatakannya kemudian terwujud. Pria itu benar- benar mendekat kemari. Apa yang harus mereka lakukan .
     “ Kamu sih , ngelempar sembarangan . Tuh  orangnya kesini. Kamu mau apa ,kalo dia marah bagaimana ?”
     “Aduh Hana itu kan ga sengaja . Gimana dong ini ?”
Pria itu semakin mendekat. Tak ada pilihan lain selain kabur untuk saat ini. Walaupun kakinya sedang sakit , mereka harus kabur terlebih dahulu. Saat hendak beranjak untuk melarikan diri , pria itu dengan sigap menginterupsi rencana kabur mereka. “Tunggu !” mau tak mau Hana dan Cantika menolehkan kepala kepada pria itu.
     “Ada apa ya mas ?” tanya Cantika was-was takut kena marah.
     “Ini sepatu kamu kan ?” katanya sembari menyodorkan sepatu dengan hak patah kepada Hana.  Dan ya pria itu tidak menjawab pertanyaan Cantika tadi, melainkan fokusnya hanya pada Hana.
     “I..iya , terima kasih. “ Hana dengan cepat mengambil kembali sepatu patah itu dan dengan cepat pula menolehkan diri agar bisa segera pergi.
     “Tunggu !” pria itu kembali menahan Hana , kali ini dengan menahan tangan kanan Hana.
Hana yang cukup kaget ada seseorang yang menahan tangannyapun kembali menoleh,tapi dengan tatapan yang kurang suka.
     “Ups, sorry. Saya Cuma mau bilang , kamu memangnya mau pulang tanpa alas kaki ? Saya tadi melihat aksi berani kamu. Saya melihat sepatu kamu patah , dan ini pakailah saja sepatu saya. Memang mungkin kebesaran , tapi setidaknya kamu bisa pulang memakai alas kaki. “ katanya sembari menyodorkan sepasang sepatu yang dijinjing didalam tas kertas. Hana ragu untuk menerima sepatu itu atau tidak. Tapi mau bagaimana lagi , ia tak mungkin pulang dengan bertelanjang kaki seperti ini.
     “O..oh , terima kasih.” 
     “Sama – sama . Kalau begitu saya pamit , sampai jumpa.” Pria itu kemudian pergi setelah tersenyum manis.
Hana yang memang frekuensi bicara dengan seorang pria sangatlah jarang. Saat ini merasakan suatu hal yang aneh dan membuatnya gugup. Cantika yang melihatnya pun tak kehabisan pikir untuk segera menjadikannya bahan menggoda Hana,
     “Cie , belum kenal  aja sudah baik. Apalagi kalu sudah kenal. Aaaa, Hana sudah jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Huuu!”
     “Apasih , jangan ngomong sembarangan kamu, dijaga itu mulutnya Cantik. Sudah ah ayo pulang!”
     “Ih Hana kamu gausah malu-malu begitu ah. Kata cowo tadi kan ‘Sampai Jumpa’ , berarti kalian bakal bertemu lagi. Aaa, so sweet .”
Hana yang tak ingin mendengar godaan yang dilayangkan Cantika pergi begitu saja meninggalkan Cantika. Gadis itu memang sangat menyebalkan. Awas saja , dia akan balas dendam suatu hari nanti. Tapi satu hal yang sampai saat ini terngiang-ngiang dipikiran Hana, ‘Sampai  Jumpa’. Apakah mereka memang akan bertemu kembali ?

     Hana yang hanya bengong saja daritadi membuat Ismail khawatir. Apakah gadis itu sakit ? apakah gadis itu marah karena dia seenaknya membawa pergi Hana ? Ismail tak tahan lagi , ia harus berhenti sejenak dari kegiatan mengemudinya. Ia memutuskan menuju Rest Area terlebih dahulu. Ia tak bisa berpikir jernih disaat Hana yang sedari tadi Ismail panggil , tak menunjukkan tanda-tanda jawaban.
     Mobilnya saat ini dalam keadaan diam. Ismail mencoba untuk memanggil Hana sekali lagi. Tapi tetap saja Hana diam. Ismail kemudian memberanikan diri untuk menyentuh punggung tangan Hana, dan akhirnya Hana tersadar dari keterdiamannya. Lalu Hana menoleh pada Ismail dengan tatapan bertanya. Mengapa mobilnya tidak jalan. Atau jangan – jangan Hana memang benar diculik Ismail.
     “Ka, ini dimana ? Kok malah berhenti ? Jangan-jangan kamu nyulik aku ya ?”
     “Hah , nyulik ? Maksud kamu apa , orang kita lagi di Rest Area juga. Lagian yang mau nyulik kamu siapa , orang kamu yang sudah nyulik hati aku .” dengan entengnya Ismail berbicara demikian, tanpa memikirkan efek dari apa yang ia ucapkan untuk Hana.
     Hana yang memang cukup kaget , hanya diam tak membalas. Tapi melihat Ismail yang meminta balasan , akhirnya Hana memberanikan diri . “ Makasih , Ka. “
     “Makasih buat apa ?” karena tak menerima respon apa yang diinginkannya, akhirnya Ismail kembali menghadapkan diri ke depan kemudi.
     “Makasih buat lamarannya,”
     Bagai mempunyai harapan , Ismail kembali menghadapkan diri pada Hana. “Kamu akhirnya nerima lamaran aku ?”
     “Siapa yang bilang nerima lamaran , orang aku cuma bilang makasih juga.”
     “Apa ga bisa dipertimbangkan lagi , Han ?”
     “Tergantung. Kita lihat saja nanti begitu sampai di rumah aku .”
     “Jangan bilang kalau...”
     Ismail menghentikan apa yang akan dikatakannya. Sepertinya sesudah ini ia harus menyiapkan mental yang kuat . Ya itu memang harus dipersiapkan.