Sabtu, 02 Maret 2019

Novel : Ingatan Jangka Pendek , Hubungan Jangka Panjang

BAGIAN DUA

     Satu jam bagai satu hari, dua jam bagai satu bulan, tiga jam bagai satu tahun. Lalu bagaimana keadaan Hana jika satu jam saja seperti satu hari. Yang ia pikirkan saat ini adalah meminta pintu kemana saja milik Doraemon. Ia ingin segera sampai, tanpa ada suatu hal yang menghambatnya.
     Ah Pria di sampingnya adalah seseorang yang hampir tak pernah absen dari kehidupan Hana selama empat tahun kebelakang. Ia merasa canggung bukan karena marah. Mereka bukan sepasang mantan yang terlibat dalam insiden pertengkaran. Mereka bahkan bukan sepasang kekasih yang diresmikan. Mereka hanyalah dua insan yang memiliki takdir untuk dipertemukan.
     Memikirkan berbagai hal yang telah Hana lewati selama kehidupannya di dunia perkuliahan membuat ia ingin bernostalgia sejenak. Hana memang seorang pelupa, tapi jauh dari yang orang-orang kebanyakan mengira , sebenarnya ada kalanya Hana tidak bisa melupakan berbagai momen penting yang pernah ia lalui.
Kalian pasti bertanya – tanya Hana pergi bersama seorang pria yang bahkan bukan siapa siapanya Hana. Bukankah itu berbahaya . Jarak antara Bandung-Kuningan bukan hanya tingal ke perempatan. Tetapi melewati  medan tempuh yang sangat jauh. Mengapa Hana tidak takut diculik atau diapakan ,suatu hal yang mengancam fisiknya ia tak perlu khawatir. Hana adalah seorang Karateka sabuk hitam. Lagi pula apa yang harus ia khawatirkan jika bersama Ismail. Pria ini adalah pria yang baik maka kecil kemungkinan jika Ismail berbuat suatu hal yang membahayakan Hana. Tapi Hana telah berbuat hal yang pasti melukai ego yang laki-laki miliki. Bisa saja Ismail berbuat hal jahat setelah Hana secara tak langsung menolak lamaran untuk menikah dengannya. Hana bukannya tak mau, tapi ia sedang sibuk dan terfokus dengan skripsinya. Ia ingin menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Jadi kesimpulannya Hana sudah menolak Ismail.
     Sebuah kilasan peristiwa tiba-tiba melintas dipikirannya. Mau tak mau Hana tenggelam dan kembali mengingat kejadian itu.

     4 tahun yang lalu...
     Hari minggu adalah hari dimana sebagian orang memanjakan diri dengan pergi menghirup udara segar maupun pergi memanjakan diri berbelanja ka Mall. Yang lebih mendukung adalah cuaca hari minggu yang seakan-aka menarik manusia agar menikmati alam ciptaan Tuhan ini.
Tapi tidak dengan Hana yang lebih nyaman bergelung dengan selimutnya. Hana memiliki slogan “It’s dangerous out of blanket”. Tapi entah memang ia hanya sedang sial saja atau sebuah kesialan itu memang sudah direncanakan untuk Hana, ia memiliki seorang roomate yang sangat Sok Kenal Sok Dekat. Mereka bahkan baru bertemu selama lima hari. Tapi gadis itu , Cantika namanya, sudah seperti menganggap jika mereka ini adalah sahabat yang sudah lama tak bertemu laludipertemukan kembali.
     “Hana Dalkomhan , cepetan bangun ! Ayo temani aku pergi ke mall . ayo kita merelaxkan jiwa dan raga sebelum menghadapi Ospek besok.” Kedua tangan Cantika menggoyang – goyang tubuh Hana, dengan begitu Hana akan cepat bangun. Tapi cara itu belum mutakhir bagi Hana. Ia tak bisa melewatkan hari minggunya bersama seseorang yang sangat menyebalkan seperti Cantika.
     “Hana Daleman , cepet bangun !”
Mendengar namanya diubah begitu saja , tentu Hana tidak bisa diam saja. Apapun yang menyangkut hajat hidup Hana Dalkomhan haruslah dijaga sebaik-baiknya. “Apa kau bilang ? Berani sekali mengganti namaku seenaknya. Itu adalah nama pemberian Ibu Suri Agung yang tidak bisa diganggu gugat. Kau akan mati jika ibuku tahu apa yang kau katakan padaku!” Hana yang sudah sangat kesal kembali menenggelamkan diri kedalam selimutnya itu.
     “Bodo amat ! lagian ibu kamu yang bilang kalo minggu jangan pernah biarin kamu terus-terusan di atas kasur. Pokoknya bangun . Daleman..Daleman .. Dal...” Cantika yang tak menduga akan menerima timpukan bantal milik Hana pun limbung karena timpukan bantal yang cukup kuat. “diam kau ! Aku sudah bangun. Awas saja jika sekali lagi bicara seperti itu. Mati kau ditanganku, bukan lagi ditangan ibuku. Sial .” Hana segera pergi ke kamar mandi setelah berkata demikian.
     Sementara itu bukannya marah , Cantika malah dengan senang hati mempersiapkan pakaian yang akan dipakai Hana. Satu hal pesan dari Ibu Hana yang harus ia lakukan akhir pekan ini. Sepatu high hells,Hana harus memakai itu. Dengan segera ia menyembunyikan semua sneakers yang Hana miliki, kemudian menyiapkan sepatu setinggi lima sentimeter miliknya. Itu sangat cocok untuk pemula seperti Hana.
     Alhasil selama perjalanan menuju Mall , Hana tak henti-hentinya mencoba untuk tak meluapkan amarahnya kepada Cantika. Bagaimana ia tak kesal , mimpi apa semalam ia hari ini harus memakai sepatu berhak seperti ini ,sungguh mengerikan. Untungnya saja ia tak terlalu bodoh dalam menggunakan sepatu tersebut. Yang ia herankan adalah mengapa Cantika sangat memaksanya untuk pergi ke Mall. Cantika bisa saja minta temani pacarnya. Sungguh aneh.
     “Cantika , mengapa kau ingin sekali pergi ke Mall bersamaku ?”
     “Aku melihat pakaian karate dan sabuk hitam yang kamu miliki di lemari bajumu. Wah kamu keren sekali ! Dengan adanya kamu aku tidak perlu khawatir akan ada seseorang menyerangku.”
     “Hey , memangnya aku ini pengawalmu ! lagipula bukankah kau ada pacar , dia harusnya yang berada di posisiku saat ini .”
     “Pacarku itu panitia Ospek kita besok , dia sibuk makanya aku pergi bersamamu, Huh .”
     Dasar gadis menyebalkan pikir Hana. Ia merasa mual  hanya dengan melihat wajah Cantika . Saat mencoba mangalihkan pandangan dari Cantika , Hana melihat keributan tak jauh dari tempat ia berada. Dia melihat dengan mata kepala sendiri seorang pria yang mulai dikerubungi warga itu menyandera seorang ibu-ibu. Kejadian ini berada di sebuah taman yang tak jauh dari Mall tadi. Dengan bergegas Hana pergi ke tempat yang sedang di kerubungi itu. Cantika yang ada di belakangnya berteriak pada Hana agar mereka pulang saja ,tak perlu ikut campur hal yang berbahaya seperti itu. Namun Hana tak menghiraukan teriakan Cantika. Apa gunanya teknologi serta keahlian bela diri yang dimiliki Hana jika tidak dipergunakan dengan baik.
     “Mundur kalian semua ! Jangan panggil polisi dan jangan mendekat ! kalau kalian berani berbuat itu , akan kubunuh wanita ini !” dengan pisau ditangannya pria paruh baya itu menodongkan pisaunya pada warga lalu kembali pada ibu yang disanderanya itu.
     Hana yang tak ingin dianggap bodoh , segera menelepon polisi tanpa terlihat oleh pria itu. Oke ini saatnya Hana memberikan pertunjukannya yang konyol namun menyangkut nyawa seseorang. Rencana konyolnya ini bukan diataskan pada ide bodoh yang mendadak , Hana bisa melihat dari tatapan mata pria itu , kalau pria paruh baya itu adalah seseorang yang mudah teralihkan pikirannya. Dengan modal apa yang diketahuinya saat ini , Hana berani mengambil risiko dari rencana yang akan segera ia lancarkan ini.
     Hana menjatuhkan diri tepat satu meter dihadapan pria yang menyandari seorang ibu-ibu tadi. Warga yang mengerubungi mulai berteriak panik mengutuk aksi bodh yang ia lakukan. Begitupun Cantika dengan teriakannya yang paling heboh dari siapapun. Sialnya ia menjatuhkan diri tetapi seperti benar-benar terjatuh yang tak dibuat-buat. Ia sungguh sakit. Rupanya Hana lupa jika ia sedang memakai sepatu high heels. Tapi Hana harus tetap fokus dengan rencananya. Rasa sakitnya akan hilang seiring berjalannya waktu.
     Si penyandera mulai panik mengetahui ada seseorang yang berani mendekatinya , apalagi itu perempuan. Penyandera mulai bingung antara menodongkan pisau pada ibu itu atau pada Hana yang mulai mendekati mereka. Oke , aksinya dimulai sekarang juga.
     “Aww... sakit banget. Loh ini ada apa ko ramai sekali , engga tahu apa aku sedang buru-buru mencari sesuatu yang sangat langka. “ ucapnya sembari mencoba berdiri dan berpura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi saat ini .
     Orang – orang mulai berteriak kepada Hana agar segera menjauh dari pria yang sedang menyandera itu. Kalau mereka khawatir mengapa tak ada seorangpun yang dengan berani untuk menyelamatkan Hana saat ini ataupun ibu yang sedang disandera itu. Sungguh miris bahwa rasa simpati mereka kurang, mereka hanya mementingkan diri sendiri. Seharusnya mereka membaca situasi , Hana dengan sekali lihat saja tahu bahwa pria penyandera itu sepertinya baru pertama kali memegang pisau. Jika sudah terbiasa menggunakan pisau untuk kejahatan , seharusnya pria itu tak perlu gemetaran seperti itu. Oke , tahap kedua rencana akan segera dilancarkan .
     Hana hanya celingukan tak mengerti , kemudian ia melihat jam tangan yang sangat mewah dipakai oleh penyandera itu. Itu akan menjadi objek yang ia gunakan sebagai pengalih perhatian.      “Wah bapak dapat dari mana jam tangan itu ? Saya sekarang sedang sangat darurat untuk segera mendapatkan jam tangan itu. Biar saya beli saja pak , berapapun itu saya beli !” pria penyandera mulai goyah , ketika fokus mata pria itu melihat ke arah jam tangannya, Hana segera melayangkan tinjuan serta tendangan secepat kilat, kemuadian menindih pria penyandera itu. Pisau yang ada digenggamannya Hana buang jauh-jauh .
     Tak berselang lama ,suara sirine polisi mulai mendekat. Akhirnya , Hana serahkan rencana berikutnya kepada polisi. Polisi sempat bertanya pada Hana apakah ada yang terluka  . Hana dengan segera menjawab baik-baik saja. Toh , ia sudah biasa sakit seperti ini. Yang ia inginkan saat ini hanyalah segera berbaring di atas kasurnya . Menerima ucapan terimakasih sudah sangat cukup bagi Hana. Sempat ada media yang ingin mewawancarainya atas apa yang ia lakukan. Namun Hana menolaknya karena memang ia tak suka menjadi pusat perhatian.
     Cantika menuntun Hana menuju air mancur yang ada di dalam taman tersebut. Hana baru menyadari bahwa hak sepatunya patah saat menendang wajah pria penyandera itu. Bisa dibayangkan seberapa kuatnya tendangan yang ia miliki.
     “Cantika , maaf ya ini sepatumu jadi patah .” Hana merasa tak enak sudah merusak barang milik Cantika.
     “Sudah tidak apa-apa. Sepatu kayak gini ngga ada apa-apanya dibandingkan keselamatan kamu. Dasar bodoh , kamu ini perempuan tapi berani-beraninya berbuat hal berbahaya seperti itu . Sudah sepatunya dibuang saja!” Cantika yang memang lebih bodoh daripada Hana melemparkan sepatu patahnya tanpa melihat arah. Alhasil sepatu itu mendarat di kepala orang .  Dan seseorang itu adalah seorang pria . Bagaimana jika pria itu marah dan mendekat kemari. Baru saja apa yang dikatakannya kemudian terwujud. Pria itu benar- benar mendekat kemari. Apa yang harus mereka lakukan .
     “ Kamu sih , ngelempar sembarangan . Tuh  orangnya kesini. Kamu mau apa ,kalo dia marah bagaimana ?”
     “Aduh Hana itu kan ga sengaja . Gimana dong ini ?”
Pria itu semakin mendekat. Tak ada pilihan lain selain kabur untuk saat ini. Walaupun kakinya sedang sakit , mereka harus kabur terlebih dahulu. Saat hendak beranjak untuk melarikan diri , pria itu dengan sigap menginterupsi rencana kabur mereka. “Tunggu !” mau tak mau Hana dan Cantika menolehkan kepala kepada pria itu.
     “Ada apa ya mas ?” tanya Cantika was-was takut kena marah.
     “Ini sepatu kamu kan ?” katanya sembari menyodorkan sepatu dengan hak patah kepada Hana.  Dan ya pria itu tidak menjawab pertanyaan Cantika tadi, melainkan fokusnya hanya pada Hana.
     “I..iya , terima kasih. “ Hana dengan cepat mengambil kembali sepatu patah itu dan dengan cepat pula menolehkan diri agar bisa segera pergi.
     “Tunggu !” pria itu kembali menahan Hana , kali ini dengan menahan tangan kanan Hana.
Hana yang cukup kaget ada seseorang yang menahan tangannyapun kembali menoleh,tapi dengan tatapan yang kurang suka.
     “Ups, sorry. Saya Cuma mau bilang , kamu memangnya mau pulang tanpa alas kaki ? Saya tadi melihat aksi berani kamu. Saya melihat sepatu kamu patah , dan ini pakailah saja sepatu saya. Memang mungkin kebesaran , tapi setidaknya kamu bisa pulang memakai alas kaki. “ katanya sembari menyodorkan sepasang sepatu yang dijinjing didalam tas kertas. Hana ragu untuk menerima sepatu itu atau tidak. Tapi mau bagaimana lagi , ia tak mungkin pulang dengan bertelanjang kaki seperti ini.
     “O..oh , terima kasih.” 
     “Sama – sama . Kalau begitu saya pamit , sampai jumpa.” Pria itu kemudian pergi setelah tersenyum manis.
Hana yang memang frekuensi bicara dengan seorang pria sangatlah jarang. Saat ini merasakan suatu hal yang aneh dan membuatnya gugup. Cantika yang melihatnya pun tak kehabisan pikir untuk segera menjadikannya bahan menggoda Hana,
     “Cie , belum kenal  aja sudah baik. Apalagi kalu sudah kenal. Aaaa, Hana sudah jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Huuu!”
     “Apasih , jangan ngomong sembarangan kamu, dijaga itu mulutnya Cantik. Sudah ah ayo pulang!”
     “Ih Hana kamu gausah malu-malu begitu ah. Kata cowo tadi kan ‘Sampai Jumpa’ , berarti kalian bakal bertemu lagi. Aaa, so sweet .”
Hana yang tak ingin mendengar godaan yang dilayangkan Cantika pergi begitu saja meninggalkan Cantika. Gadis itu memang sangat menyebalkan. Awas saja , dia akan balas dendam suatu hari nanti. Tapi satu hal yang sampai saat ini terngiang-ngiang dipikiran Hana, ‘Sampai  Jumpa’. Apakah mereka memang akan bertemu kembali ?

     Hana yang hanya bengong saja daritadi membuat Ismail khawatir. Apakah gadis itu sakit ? apakah gadis itu marah karena dia seenaknya membawa pergi Hana ? Ismail tak tahan lagi , ia harus berhenti sejenak dari kegiatan mengemudinya. Ia memutuskan menuju Rest Area terlebih dahulu. Ia tak bisa berpikir jernih disaat Hana yang sedari tadi Ismail panggil , tak menunjukkan tanda-tanda jawaban.
     Mobilnya saat ini dalam keadaan diam. Ismail mencoba untuk memanggil Hana sekali lagi. Tapi tetap saja Hana diam. Ismail kemudian memberanikan diri untuk menyentuh punggung tangan Hana, dan akhirnya Hana tersadar dari keterdiamannya. Lalu Hana menoleh pada Ismail dengan tatapan bertanya. Mengapa mobilnya tidak jalan. Atau jangan – jangan Hana memang benar diculik Ismail.
     “Ka, ini dimana ? Kok malah berhenti ? Jangan-jangan kamu nyulik aku ya ?”
     “Hah , nyulik ? Maksud kamu apa , orang kita lagi di Rest Area juga. Lagian yang mau nyulik kamu siapa , orang kamu yang sudah nyulik hati aku .” dengan entengnya Ismail berbicara demikian, tanpa memikirkan efek dari apa yang ia ucapkan untuk Hana.
     Hana yang memang cukup kaget , hanya diam tak membalas. Tapi melihat Ismail yang meminta balasan , akhirnya Hana memberanikan diri . “ Makasih , Ka. “
     “Makasih buat apa ?” karena tak menerima respon apa yang diinginkannya, akhirnya Ismail kembali menghadapkan diri ke depan kemudi.
     “Makasih buat lamarannya,”
     Bagai mempunyai harapan , Ismail kembali menghadapkan diri pada Hana. “Kamu akhirnya nerima lamaran aku ?”
     “Siapa yang bilang nerima lamaran , orang aku cuma bilang makasih juga.”
     “Apa ga bisa dipertimbangkan lagi , Han ?”
     “Tergantung. Kita lihat saja nanti begitu sampai di rumah aku .”
     “Jangan bilang kalau...”
     Ismail menghentikan apa yang akan dikatakannya. Sepertinya sesudah ini ia harus menyiapkan mental yang kuat . Ya itu memang harus dipersiapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar