BAGIAN SATU
Hujan tak henti-hentinya turun , angin
tak henti-hentinya berhembus, cahaya semakin tenggelam ,sudah saatnya ia pamit.
Ya , ini sudah malam. Tapi tidak untuk seorang Hana Dalkomhan ,dengan kacamata
yang bertengger di pangkal hidungnya. Mata tajam yang terus menekuni layar di
depannya hingga tak peduli dengan keadaan di sekitarnya.
Entah apa yang ada dipikirannya ,
yang pasti beribu-ribu kata ia tuangkan kedalam laptop dihadapannya. Dengan
gerakan tangan yang lincah , lebih lincah daripada saat ia berlari. Orang akan
berpikir bahwa ia hanya sedang mengerjakan tugas kuliah. Tetapi ternyata oh
ternyata ini bukan hanya sekedar tugas kuliah , ini adalah sebuah tugas
terakhir dimana ia bisa meninggalkan tempat yang selama ini mengandung berbagai
, kejadian, insiden maupun kenangan.
Waktu terus berjalan tanpa ia
sadari. Seperti empat tahun ini hanya hembusan angin belaka. Hana melihat jam yang
terus mengeluarkan bunyi teratur. Tak ada yang berubah dari jam . Jam hanya
menunjukkan waktu. Tapi yang berubah adalah setiap kejadian yang dilalui
waktu.
Hana sudah tak menghiraukan yang
sedang ia tekuni saat ini. Hanya dengan melihat jam, fokus pikirannya buyar
begitu saja. Ada sesuatu yang cukup mengganggunya, ia tak bisa menahan senyuman
yang terbit begitu mengingat apa yang sedang dipikirkannya. Untung saja para
pelanggan Cafe sudah pergi , karena memang toko sudah tutup sejak pukul sepuluh
malamtadi.
“Hey , hey , Lo nakutin gue deh
,Han. Apa coba senyam-senyum sendiri begitu ? padahal ini bukan malam Jum’at
loh.”
“Apaan si , Bos. Lo kira gue
Kunti apa. Sana Bos ,Lo pulang duluan saja, Cafe biar gue yang tutup. Gue pengen
minum coklat dulu.”
“Heh , bayar lo , Han ! udah
berapa gelas lo minum dari tadi. Kalo kayak gini gue bisa bangkrut , neng
geulis “
“Tenang Bos sebagai gantinya ,
besok gue bakal kerja lebih keras . Bos gak perlu turun tangan lagi , neng Hana
yang manis ini akan meng-handle semua pekerjaan untuk besok. “
“Besok , besok apa lo ? aduh
cantik dan manis yang sayangnya pelupa. Lo pasti lupa besok bakal pulang kampung ,
kan ? Teman lo besok kan nikahan dodol !” ucap si Bos sambil menoyor kepala
Hana yang isinya kebanyakan isi buku.
Seketika bagai diseruduk sapi
serta ditampar ekor kuda. Pernyataan Bos
nya barusan menyadarkan dan mengingatkan bahwa Hana ini memang tak bisa sembuh
dari penyakit lupa hari penting di dunia. “Astagfirullahal'adzim , Bos. Gue
beneran lupa , aduh gimana ini ? Packing sih udah tapi gimana gue pulang ke
kost-an gue nya , Bos ?” Hana dengan bergegas membereskan segala barang yang
berserakan di meja yang tadi ia tempati. “ ah , iya ! Gojek Bos gojek ! Cepetan
pesenin gue gojek , Bos!”
“Udah gausah panik begitu deh
,Han. Noh , sudah ada di depan.” Katanya dari ambang pintu sembari menunjuk
area parkiran.”cepetan Cafe-nya mau gue tutup ini !”
“Santai dong , Bos. Ini juga
sudah selesai kok. Lagian kok gojeknya cepet amat datangnya.” Dengan
tergesa-gesa Hana pergi melewati Bos-nya yang masih ada di ambang pintu.”thanks ya Bos ! Gue pulang dulu, ati-ati
di jal....”
Hana tak sempat menyelesaikan apa
yang ingin dikatakannya karena terlalu terkejut atas apa yang dilihatnya saat
ini. Mengapa harus dia sih gojek nya, pikirnya. Bahkan disaat seperti ini pun
Hana belum bisa berpikir logis. Untuk apa Pria dihadapannya ada disini.
Seketika Hana kembali menoleh kepada Bos nya dengan tatapan ingin segera
membunuh si Bos laknat itu. Sedangkan yang ditatap hanya mengedikkan bahu tak
merasa telah melakukan sebuah dosa. Dan yang lebih mengesalkannya lagi , Bos
nya berkata dengan cukup lantang tanpa memperdulikan bagaimana kondisi Hana
kedepannya.
“Sudah sana cepetan pergi ! Enyah
kau neng geulis forget-an ! Mamang gojek
sudah lama menunggu, kasihanilah dia sebagaimana kau mengasihi aku !”
“Sial , awas aja lo Bos. Liat
saja nanti !”
Rasanya Hana ingin tenggelam saja
dari dunia ini. Mau ditaruh dimana mukanya ini . Ia sengaja berada di Cafe
seharian karena tidak ingin bertemu laki-laki itu di kampus. Hari ini adalah
hari yang sangat menyebalkan. Dan juga , gojek apanya Pria itu membawa
mobil. Kalau saja membawa motor , Hana masih bisa bernapas lega karena jika ia
diajak bicara ia bisa saja pura-pura tuli. Tapi kalau di mobil, ia tak bisa
menjaminnya.
Karena terlalu berkemelut dengan
pikirannya, hingga ia tak sadar dari tadi Pria itu terus memanggilnya untuk
segera masuk ke mobil. Tak berharap bahwa Pria itu akan membukakan pintu
untuknya, karena Hana sudah biasa membuka pintu mobil sendiri sejak awal
kedekatan mereka.
“Hana , ayo !” ucap Pria itu
cukup gemas dan tak sabar dengan kelambanan Hana.
“i..iya , Ka .”
Berbeda dengan apa yang telah
Hana duga-duga di pikirannya , Pria itu bahkan tak bicara sepatah katapun
semenjak menyuruhnya naik ke dalam mobil. Ada apa ini , bukankah ini yang Hana
harapkan. Mengapa sekarang Hana yang merasa tidak nyaman. Tak ingin terus
memikirkan itu , ia lebih baik sepanjang perjalanan melihat kearah luar jendela
saja. Jarang sekali Hana bisa menikmati keadaan Bandung jika malam hari yang
sudah sangat larut ini.
Hana hapal betul dengan jalan ia
pulang . Tetapi ia merasakan aneh , bukankan seharusnya mereka belok kiri,
bukan belok ke kanan. Ia yakin belok ke kanan adalah jalur menuju jalan tol.
Kost – an Hana mana bisa lewat jalan tol. Dan yang lebih tidak mungkin adalah
mana mungkin mereka langsung pergi ke kampung halaman Hana bukannya ke Kost-an.
Hanya sejenak Hana berpikir setelah kata-kata tadi melintas di pikirannya. Ini
sangat tidak mungkin , ia harus bertanya , untuk bertanya tentunya ia harus
memberanikan diri.
“Ehm, Ka ! bukannya ini arah jalan
tol. Jalan ke kost-an kan harusnya belok ke kiri. Kaka ngga mungkin lupa ,kan
?”
“Untuk hal yang sudah menjadi
kebiasaan ,aku ga mungkin lupa dong . Engga kaya kamu pelupa, neng geulis
dodol.”
Bukannya segera memutar arah
kembali menuju kos-an. Mereka malah sudah berada di jalan tol.”Kaka ini
apa-apaan sih . Saya mau pulang ke kost-an , terus pulang ke rumah orang tua
saya. Kenapa malah bawa saya ke jalan tol yang bahkan saya tidak tahu mau
dibawa kemana saya ini !” Hana yang memang sudah terlalu kesal akhirnya
meluapkan kekesalannya pada pria yang tadinya sangat fokus pada jalanan dengan
memacu mobil dengan kecepatan tinggi cukup tersentak akibat frekuensi suara
Hana yang tiba-tiba meninggi. Bukannya mengindahkan apa yang diminta Hana ,
Pria itu malah tertawa geli. Pria itu tertawa geli karena benar-benar heran
mengapa gadis disampingnya ini tak bisa sembuh dari penyakit lupa sejenaknya.
“Memangnya kamu mau pulang naik
apa ? Naik bus yang sudah kamu pesen tiketnya ? Ga bakal bisa lah , Han . Kamu
lupa sekarang jam berapa ? Kamu sudah telat kali. Sudah mending diam dan duduk
tenang . Atau tidur saja , aku bakal pastikan kamu selamat sampai tujuan . Dan
ya, tujuan kita ya kampung halamanmu.”
“Terus barang-barang aku
bagaimana ?”
Hana sudah kembali ke dalam mode
aku-kamu. Ia bahkan tak menyadari hal itu. Hanya pria itu saja yang
menyadarinya.”Tenang saja , barang-barangmu begitupun barang-barangku sudah
siap tertata rapi di bagasi.”
“Kok bisa ?” Hana bertanya lagi
karena ia sungguh benar-benar bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Hana
memaksa agar otaknya kembali berpikir logis.Belum sempat Hana mengatakan apa
yang diinginkannya . Pria disampingnya kembali bersuara. “cantika sudah memastikan
semua barang bawaan kamu masuk ke mobil aku. Jadi jangan khawatir.”
Perkataan itu membuat Hana diam
seribu bahasa , tapi tidak dengan hatinya yang ingin mengutuk Cantika si gadis
menyebalkan itu. Cantika sama saja seperti pacarnya, dasar Cantika dengan Bos
menyebalkan itu adalah kombinasi yang mengerikan.
Lalu bagaimana dengan Hana saat
ini. Hana tak habis pikir berada dalam mobil sampai saat ini yang baru saja
dilewati selama setengah jam saja ia sudah tak nyaman. Apalagi perlajanan
sampai ke rumah nanti. Lima jam bukanlah waktu yang singkat. Apa yang harus ia
lakukan...
Wah keren👍 ditunggu lanjutannya loh yaaaa
BalasHapusMenarik👍🏻 ditunggu kelanjutan ceritanya..
BalasHapusKeren. Ditunggu kelanjutannya ya
BalasHapusBagusss wi
BalasHapusKerenn wi👌
BalasHapusKeren ceritanya.. Teruskan berkarya.
BalasHapus