Senin, 04 Maret 2019

Novel : Ingatan Jangka Pendek , Hubungan Jangka Panjang


BAGIAN TIGA
(Edisi Flashback)


     Ketua Ospek macam apa yang datang terlambat dihari pertama serta Ospek fakultas yang macam apa pula yang membiarkan para mahasiswa baru untuk beristirahat sejenak selagi menunggu sang ketua. Hal ini sontak menjadi kesempatan untuk para mahasiswa baru untuk istirahat sejenak sebelum badai menerpa. Begitu pula bagi Hana dan Cantika sudah menjadi teman sekamar berlanjut menjadi teman kulia satu jurusan. Cobaan apa lagi yang akan Hana terima. Mengapa gadis itu selalu ada bersamanya. Hana harus siap sedia fisik dan mental untuk menghadapi sikap dari Cantika ini. Baru saja Hana membicarakan sikap Cantika, gadis itu mulai berulah dengan cukup mengusik dirinya.
     “Han , pengen pipis !”
     “Kalo pengen pipis ya tinggal ke kamar mandi lah , gausah bilang-bilang segala, Cantik.”
     “Ih kamu ini cewe yang ga peka banget sih , kasian yang nanti jadi pacar kamu, punya pacar yang ga peka. Sudah ah pokoknya aku itu minta anter sama kamu , temenin ke kamar mandinya.”
     “Ih ogah banget, harus berdiri begitu tunggu kamu. Sudah sana pergi sendiri saja !”
     Cantika yang sudah tak tahan menahan hasrat pipisnya tak pikir lagi untuk segera menarik Hana saja. Hana terlalu banyak bicara dan itu membuang-buang waktu saja.
     “Loh apa-apaan sih kamu , maen tarik saja, aku kan sudah bilang gamau bagaimana sih ?” Hana menggerutu tapi tak berusaha untuk menghentikan langkahnya. Itu sama saja ia ingin menemani Cantika pipis.
     Cantika tak menghiraukan apa yang Hana katakan , yang ia pikirkan ia harus segera pipis. Cantika celingukan mencari toilet , dan beruntungnya berada dekat kantin. Sesampainya di kantin ,Cantika mendudukan Hana di salah satu meja depan penjual batagor.
     “Nah, Hana kamu tunggu disini , katanya gamau berdiri nungguin jadi kamu duduk disini tungguin aku , okey !”
“Terserah. Yang pasti cepetan waktu istirahat tinggal lima belas menit lagi. Ga usah lama-lama kaya kamu mandi tadi pagi.”
     “Iya bawel deh, lima menit juga selesai.”
     Dalam pikiran Hana , awas saja kalau Cantika tidak keluar dalam lima menit ya sudah dengan terpaksa dia tinggalkan saja. Selagi menunggu , seperti biasanya disaat Hana bosan maka ia akan menulis sebuah puisi. Menulis puisi itu bukan dalam waktu singkat , kalau iahitung waktu telah berlalu cukup lama. Saat ia melihat arloji di tangan kirinya ternyata sudah sepuluh menit berlalu dan Cantika belum juga keluar dari toilet. Hana sudah kesal , ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Lima menit lagi mereka harus segera berkumpul di tempat semula.
     Hana beranjak dari duduknya menuju ke toilet. Ia sampai lupa masih memegang buku kumpulan puisi miliknya di tangan kiri dan bolpoin super lancipnya di tangan kanan. Hana memeriksa setiap bilik toilet namun nihil, ia tak menemukan di mana Cantika berada. Tidak mungkin kan kalau Cantika salah masuk toilet , kalau iya juga pasti langsung tahu diri kembali keluar. Hanya satu kemungkinan yang diduga Hana saat ini. Cantika sudah pergi meninggalkannya lebih dulu . Ya itu sudah pasti. Dasar menyebalkan. Hana kembali bergegas menuju ke tempat berkumpulnya para mahasiswa baru. Saking kesalnya Hana tak tahan lagi ingin mengeluarkan amarahnya. Refleks , ia melemparkan bolpoin super lancipnya dan yang lebih tak terduganya lagi , melayangnya bolpoin itu mengeluarkan sura seperti ringisan seseorang.
     “Aww!!”
     Mampus , Hana harus pergi melarikan diri saja saat ini. ia tak punya banyak waktu lagi atau ia harus menerima risiko untuk dihukum. Ia hanya bisa meminta maaf dalam hati. Sebelum pergi Hana menyempatkan diri untuk melihat wajah korban melayang bolpoinnya , siapa tahu ia bisa meminta maaf dikemudian hari. Tapi ia ingat akan fakta bahwa dirinya adalah orang yang sangat pelupa untuk mengingat wajah seseorang jika hanya sekali melihat. Tapi apa salahnya untuk tetap mencoba, toh siapa tahu ia bisa mengingatnya secara kebetulan.
     Dengan melongokkan kepala secepat kilat tanpa orang itu ketahui perlahan tapi pasti. Ternyata korbannya seorang pria , tang sampai saat ini masih meringis ditempatnya. Cukup , Hana sudah melihat wajah pria itu kini saatnya ia untuk segera pergi. Saat akan malangkah , secara tak sengaja mata mereka bersibobrok. Sontak Hana merasa kepanikan melanda dirinya , tanpa pikir panja ia segera mengambil langkah seribu untuk segera melarikan diri dati tempat itu.
     Di sisi lain pria yang sedang mengusap dahinya yang sedikit berdarah meringis serta tersenyum di saat yang bersamaan. Ia tak sempat untuk segera memanggil perempuan yang sepertinya pemilik bolpoin yang dengan enaknya menabrak dahi mulus miliknya ini. Gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang dilihatnya kemarin. Gadis pemberani yang mengalahkan seorang pria penyandera dengan kemampuan bela dirinya. Jika saja ia berada di tempat itu sebelum gadis itu bertindak,mungkin saja ia yang akan lebih dulu bertindak. Tapi jika bukan karena kejadian kemarin ia tak akan memberikan sepatunya dan tidak akan mengetahui siapa gadis itu , yang hanya karena kemampuan bela diri itu membuat hatinya berdebar seperti orang jatuh cinta saja.
     Hana Dalkomhan , nama yang cantik. Bagaimana ia tahu nama tersebut ?Jjawabannya ada beberapa media yang mencantumkan nama Hana Dalkomhan sebagai penyelamat seorang ibu dari serangan penyandera. Namun bukan Ismail namanya jika hanya tahu sebatas nama saja. Ia tak pernah merasa penasaran pada seorang manapun. Dengan kegigihannya akhirnya yang ia temukan tidaklah sia-sia. Hana Dalkomhan , calon mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Linggabuana. Dan yang lebih membuat hati Ismail berbunga adalah mereka  akan sering berjumpa.
***
     Yang Hana lihat saat ini adalah para mahasiswa yang berbaris rapi. Untungnya ia belum terlambat . dengan segera ia ikut berbaris rapi dengan yang lainnya. Tepat dihadapannya berdirilah seorang Cantika. Jika saja ini bukan di kampus , ia akan dengan pasti menjenggut rambut Cantika yang saat ini dikuncir kuda. Tapi setidaknya ia masih tahu diri untuk memendam amarahnya sebentar saja. Yang bisa ia lakukan sementara saat ini adalah , memberikan bisikan super maut disamping telinga Cantika.
     “Nantikan apa yang akan terjadi nanti , nona Cantik !”
Cantika pikir itu bisikan setan , tapi ternyata itu Hana yang tadi ia lupakan keberadaannya di kantin. Ia terpaksa meninggalkan Hana bukan tanpa alasan. Yang harus Hana lakukan saat ini adalah segera meminta maaf.
     “Han , maafin aku ya , maafin karena malah ninggalin begitu aja. Tadi itu terpaksa soalnya...”
     “Hey yang dibelakang bisa diam ! Ketua akan menyampaikan sambutannya , jadi harap tenang .” ucapan Cantika terhenti berbarengan dengan tubuh Cantika yang terpaksa harus kembali menghadap ke depan.
     Hana yang tak merasa berbuat kesalahan hanya cuek bebek saja , toh yang berisik itu Cantika dan ia hanya diam saja tanpa menimpali apa yang dikatakan Cantika.  Saat ia mendongak ingin melihat wajah seorang ketua yang terlambat dari jadwalnya, saat itu juga Hana seperti tersambar petir di siang bolong. Bagaimana bisa korbannya mejadi ketua ospek . Ia memang pelupa, tapi ia masih samar-samar menginat wajah pria itu. Apalagi dengan bukti kuat bahwa terdapat luka di bagian dahi kirinya. Sudah jelas bahwa itu tercipta kareng ulah Hana. Hana bingung apa yang harus ia lakukan , pria itu pasti sudah melihat wajahnya. Bagaimana kalau pria itu membalas dendam dengan menjadikannya kacung ? Itu suatu hal yang tak akan pernah ia biarkan terjadi.
     Hana berusaha agar tidak menatap ketua ospek yang sedang memperkenalkan diri pada semua mahasiswa baru.
     “Hai semuanya , perkenalkan nama saya Ismail Gara Arjuna. Sebelumnya saya mohon maaf atas keterlambatan saya...,”
     Si ketua terus berbicara menyampaikan sambutannya. Sementara Hana tidak fokus mendengar apa yang ketua itu sampaikan. Ia hanya mendengar sampai ketua memberi tahu namanya. Oke ,dia memang mahasiswa yang kurang ajar. Tapi jangan salahkan dia karena bukan hanya dirinya tak fokus memikirkan nasibnya setelah membuat kesalahan tak sengaja pada seniornya itu. Para mahasiswa baru yang sudah pasti para gadis tak hentinya menggunjingkan bagaimana ketampanan seorang ketua Ospek yang Hana ketahui namanya adalah Ismail.
     Terlalu lama melamun membuat Hana tak menyadari pergerakan para mahasiswa yang mulai berbaris satu barisan memanjang kebelakang. Kalau saja Cantika tidak menariknya sudah pasti Hana akan menjadi bahan tertawaan karena berdiri sendirian di tengah halaman. Untuk saat ini egonya harus ia singkirkan terlebih dahulu. Ia tak ingin terlihat bodoh sekali lagi. Ia harus mengetahui apa yang harus dilakukan para mahasiswa setelah ini. salahkan telinganya karena tidak mendengarkan sama sekali perintah yang diberikan oleh ketua ospek itu.
     “Ini pada baris memang mau apa sih , Can ?”
     “Emangnya kamu ga denger ? Kita bakal milih undian di papan digital. Sekarang mah sudah ga jaman kalo ngundi itu pakai kertas. Sekarang sudah jamannya teknologi , itu liat tinggal sentuh langsung deh keluar nama beserta wajah dari senior yang bakal ngebimbing kita selama ospek.”
     “Oh.” Karena Hana masik dalam mode marah , maka ia menjawab secukupnya saja,
     Cantika yang menyadari Hana masih marah padanya , masih akan berusaha keras agar Hana tak marah  lagi. Cantika akan terus mengajak bicara Hana , walau Cantika tahu itu pasti akan menjadi hal yang menyebalkan plus membosankan untuk Hana,
     “Han , tahu nggak kalo ketua ospek yang ganteng itu bakal membimbing hanya satu orang mahasiswa. Wah , beruntung banget yang nanti dapet bimbingan dari Ketos (Ketua Ospek) pasti bakalan bener – bener ekslusif quality time , secara kemana-mana bakal berdua terus.”
     “Hmm.” Lagi-lagi balasan yang singkat.
     “Coba saja yang ngebimbing satu orang saja itu wakil ketuanya, aku bakal ikhlas lahir bathin untuk menjadi mahasiswa bimbingan wakil ketua. Kenapa wakil dapetnya dua sih ? Kan kalo ada yang godain dia bagaimana dong ? Secara wakil ketua juga ga kalah ganteng dari ketuanya.
     “Lah memang apa urusanmu kalo wakil ketuanya ada yang godain atau engga ? Yang ada juga kamu yang bakal godain itu wakil ketua.” Tunjuk Hana dengan dagunya pada wakil ketua yang ada di samping ketua.
     “Ya masalah lah ! Wong dia pacarku , aku ga bakal rela berbagi pacar dengan orang lain , huh !” suara Cantika sempat mengecil dibagian pacarku,takut ada yang mendengar mungkin. Hana sedikit terkejut mengetahui fakta bahwa si wakil ketua yang namanya Daniel itu ternyata kekasihnya si Cantika.
     “Kamu kepedean banget, emangnya kamu yakin bakal dapetin Ka Daniel pembimbing kamu ? Kalo memang sudah jodoh mah ya gapapa sih.”
     “Sudah pasti aku confident banget lah , dia itu memang jodoh aku .Kalo memang ka Daniel itu jodoh pasti gabakal kemana-mana, paling ke hati aku.” Setelah mengatakan hal demikian Hana rasanya ingin muntah saja. Sementara Cantika terus melamun sambil tersenyum gila , entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
     “Selanjutnya ! “
     “Hey , kamu Cantika jangan bengong saja , cepat maju giliran kamu . Antrian masih panjang .” seorang senior wanita menegur Cantika . Jangan tanya darimana senior itu tahu nama Cantika, karena memang semua mahasiswa baru diwajibkan untuk memakai name tag yang cukup besar.
     Cantika memilih dengan senang hati , sudah pasti yang Cantika harapkan yang menjadi pembimbingnya adalah pacarnya sendiri. Dilihat dari ekspresi gadis itu tampaknya Cantika mendapatkan apa yang ia inginkan. Berbeda dengan Hana yang dalam hatinya terus merapalkan agar tidak dibimbing oleh Ismail. Jika itu terjadi maka sebuah bencana besar bagi Hana. Hana memilih dengan sangat hati-hati , Hana menyukai nomor 1 maka ia akan memilih nomor tersebut. Dan hasilnya hari ini rasanya ia seperti disambar petir dua kali di siang bolong . Yang tidak ia harapkan malah terjadi. Dari sekian banyaknya orang yang menjadi seniornya , mengapa harus Ismail yang menjadi pembimbingnya ?

1 komentar: