Sabtu, 02 Maret 2019

Novel : Ingatan Jangka Pendek, Hubungan Jangka Panjang

BAGIAN SATU


     Hujan tak henti-hentinya turun , angin tak henti-hentinya berhembus, cahaya semakin tenggelam ,sudah saatnya ia pamit. Ya , ini sudah malam. Tapi tidak untuk seorang Hana Dalkomhan ,dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya. Mata tajam yang terus menekuni layar di depannya hingga tak peduli dengan keadaan di sekitarnya.

Entah apa yang ada dipikirannya , yang pasti beribu-ribu kata ia tuangkan kedalam laptop dihadapannya. Dengan gerakan tangan yang lincah , lebih lincah daripada saat ia berlari. Orang akan berpikir bahwa ia hanya sedang mengerjakan tugas kuliah. Tetapi ternyata oh ternyata ini bukan hanya sekedar tugas kuliah , ini adalah sebuah tugas terakhir dimana ia bisa meninggalkan tempat yang selama ini mengandung berbagai , kejadian, insiden maupun kenangan.

     Waktu terus berjalan tanpa ia sadari. Seperti empat tahun ini hanya hembusan angin belaka. Hana melihat jam yang terus mengeluarkan bunyi teratur. Tak ada yang berubah dari jam . Jam hanya menunjukkan waktu. Tapi yang berubah adalah setiap kejadian yang dilalui waktu.

     Hana sudah tak menghiraukan yang sedang ia tekuni saat ini. Hanya dengan melihat jam, fokus pikirannya buyar begitu saja. Ada sesuatu yang cukup mengganggunya, ia tak bisa menahan senyuman yang terbit begitu mengingat apa yang sedang dipikirkannya. Untung saja para pelanggan Cafe sudah pergi , karena memang toko sudah tutup sejak pukul sepuluh malamtadi.

     “Hey , hey , Lo nakutin gue deh ,Han. Apa coba senyam-senyum sendiri begitu ? padahal ini bukan malam Jum’at loh.”

     “Apaan si , Bos. Lo kira gue Kunti apa. Sana Bos ,Lo pulang duluan saja, Cafe biar gue yang tutup. Gue pengen minum coklat dulu.”

     “Heh , bayar lo , Han ! udah berapa gelas lo minum dari tadi. Kalo kayak gini gue bisa bangkrut , neng geulis “

     “Tenang Bos sebagai gantinya , besok gue bakal kerja lebih keras . Bos gak perlu turun tangan lagi , neng Hana yang manis ini akan meng-handle  semua pekerjaan untuk besok. “

     “Besok , besok apa lo ? aduh cantik dan manis yang sayangnya pelupa. Lo pasti lupa besok bakal pulang kampung , kan ? Teman lo besok kan nikahan dodol !” ucap si Bos sambil menoyor kepala Hana yang isinya kebanyakan isi buku.

     Seketika bagai diseruduk sapi serta ditampar  ekor kuda. Pernyataan Bos nya barusan menyadarkan dan mengingatkan bahwa Hana ini memang tak bisa sembuh dari penyakit lupa hari penting di dunia. “Astagfirullahal'adzim , Bos. Gue beneran lupa , aduh gimana ini ? Packing sih udah tapi gimana gue pulang ke kost-an gue nya , Bos ?” Hana dengan bergegas membereskan segala barang yang berserakan di meja yang tadi ia tempati. “ ah , iya ! Gojek Bos gojek ! Cepetan pesenin gue gojek , Bos!”

     “Udah gausah panik begitu deh ,Han. Noh , sudah ada di depan.” Katanya dari ambang pintu sembari menunjuk area parkiran.”cepetan Cafe-nya mau gue tutup ini !”

     “Santai dong , Bos. Ini juga sudah selesai kok. Lagian kok gojeknya cepet amat datangnya.” Dengan tergesa-gesa Hana pergi melewati Bos-nya yang masih ada di ambang pintu.”thanks ya Bos ! Gue pulang dulu, ati-ati di jal....”

     Hana tak sempat menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya karena terlalu terkejut atas apa yang dilihatnya saat ini. Mengapa harus dia sih gojek nya, pikirnya. Bahkan disaat seperti ini pun Hana belum bisa berpikir logis. Untuk apa Pria dihadapannya ada disini. Seketika Hana kembali menoleh kepada Bos nya dengan tatapan ingin segera membunuh si Bos laknat itu. Sedangkan yang ditatap hanya mengedikkan bahu tak merasa telah melakukan sebuah dosa. Dan yang lebih mengesalkannya lagi , Bos nya berkata dengan cukup lantang tanpa memperdulikan bagaimana kondisi Hana kedepannya.

     “Sudah sana cepetan pergi ! Enyah kau neng geulis forget-an ! Mamang gojek sudah lama menunggu, kasihanilah dia sebagaimana kau mengasihi aku !”

     “Sial , awas aja lo Bos. Liat saja nanti !”

     Rasanya Hana ingin tenggelam saja dari dunia ini. Mau ditaruh dimana mukanya ini . Ia sengaja berada di Cafe seharian karena tidak ingin bertemu laki-laki itu di kampus. Hari ini adalah hari yang sangat menyebalkan. Dan juga , gojek apanya Pria itu membawa mobil. Kalau saja membawa motor , Hana masih bisa bernapas lega karena jika ia diajak bicara ia bisa saja pura-pura tuli. Tapi kalau di mobil, ia tak bisa menjaminnya.

     Karena terlalu berkemelut dengan pikirannya, hingga ia tak sadar dari tadi Pria itu terus memanggilnya untuk segera masuk ke mobil. Tak berharap bahwa Pria itu akan membukakan pintu untuknya, karena Hana sudah biasa membuka pintu mobil sendiri sejak awal kedekatan mereka.

     “Hana , ayo !” ucap Pria itu cukup gemas dan tak sabar dengan kelambanan Hana.

     “i..iya , Ka .”

     Berbeda dengan apa yang telah Hana duga-duga di pikirannya , Pria itu bahkan tak bicara sepatah katapun semenjak menyuruhnya naik ke dalam mobil. Ada apa ini , bukankah ini yang Hana harapkan. Mengapa sekarang Hana yang merasa tidak nyaman. Tak ingin terus memikirkan itu , ia lebih baik sepanjang perjalanan melihat kearah luar jendela saja. Jarang sekali Hana bisa menikmati keadaan Bandung jika malam hari yang sudah sangat larut ini.

    Hana hapal betul dengan jalan ia pulang . Tetapi ia merasakan aneh , bukankan seharusnya mereka belok kiri, bukan belok ke kanan. Ia yakin belok ke kanan adalah jalur menuju jalan tol. Kost – an Hana mana bisa lewat jalan tol. Dan yang lebih tidak mungkin adalah mana mungkin mereka langsung pergi ke kampung halaman Hana bukannya ke Kost-an. Hanya sejenak Hana berpikir setelah kata-kata tadi melintas di pikirannya. Ini sangat tidak mungkin , ia harus bertanya , untuk bertanya tentunya ia harus memberanikan diri.

     “Ehm, Ka ! bukannya ini arah jalan tol. Jalan ke kost-an kan harusnya belok ke kiri. Kaka ngga mungkin lupa ,kan ?”

     “Untuk hal yang sudah menjadi kebiasaan ,aku ga mungkin lupa dong . Engga kaya kamu pelupa, neng geulis dodol.”

    Bukannya segera memutar arah kembali menuju kos-an. Mereka malah sudah berada di jalan tol.”Kaka ini apa-apaan sih . Saya mau pulang ke kost-an , terus pulang ke rumah orang tua saya. Kenapa malah bawa saya ke jalan tol yang bahkan saya tidak tahu mau dibawa kemana saya ini !” Hana yang memang sudah terlalu kesal akhirnya meluapkan kekesalannya pada pria yang tadinya sangat fokus pada jalanan dengan memacu mobil dengan kecepatan tinggi cukup tersentak akibat frekuensi suara Hana yang tiba-tiba meninggi. Bukannya mengindahkan apa yang diminta Hana , Pria itu malah tertawa geli. Pria itu tertawa geli karena benar-benar heran mengapa gadis disampingnya ini tak bisa sembuh dari penyakit lupa sejenaknya.

     “Memangnya kamu mau pulang naik apa ? Naik bus yang sudah kamu pesen tiketnya ? Ga bakal bisa lah , Han . Kamu lupa sekarang jam berapa ? Kamu sudah telat kali. Sudah mending diam dan duduk tenang . Atau tidur saja , aku bakal pastikan kamu selamat sampai tujuan . Dan ya, tujuan kita ya kampung halamanmu.”

     “Terus barang-barang aku bagaimana ?”

     Hana sudah kembali ke dalam mode aku-kamu. Ia bahkan tak menyadari hal itu. Hanya pria itu saja yang menyadarinya.”Tenang saja , barang-barangmu begitupun barang-barangku sudah siap tertata rapi di bagasi.”

     “Kok bisa ?” Hana bertanya lagi karena ia sungguh benar-benar bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Hana memaksa agar otaknya kembali berpikir logis.Belum sempat Hana mengatakan apa yang diinginkannya . Pria disampingnya kembali bersuara. “cantika sudah memastikan semua barang bawaan kamu masuk ke mobil aku. Jadi jangan khawatir.”

Perkataan itu membuat Hana diam seribu bahasa , tapi tidak dengan hatinya yang ingin mengutuk Cantika si gadis menyebalkan itu. Cantika sama saja seperti pacarnya, dasar Cantika dengan Bos menyebalkan itu adalah kombinasi yang mengerikan.

Lalu bagaimana dengan Hana saat ini. Hana tak habis pikir berada dalam mobil sampai saat ini yang baru saja dilewati selama setengah jam saja ia sudah tak nyaman. Apalagi perlajanan sampai ke rumah nanti. Lima jam bukanlah waktu yang singkat. Apa yang harus ia lakukan...


6 komentar: